weLcomE iN our BloGger
this is Very beAutiful blogger

Minggu, 28 November 2010

Jalinsum Ditutup, Jalur Alternatif Macet

Luar Daerah | November 17, 2010 at 20:41 Jalinsum Ditutup, Jalur Alternatif Macet


KALIANDA, KOMPAS.com – Ratusan truk dan bus terjebak kemacetan total di ruas jalan Simpang Gayam Simpang Ketapang, Kalianda, Lampung Selatan, Rabu (17/11/2010). Kemacetan ini terjadi menyusul ditutupnya ruas jalan lintas Sumatera di Kilometer 79/80 Bakauheni.
Kemacetan parah ini terutama terjadi menjelang sore hari. Ribuan truk dan bus antar kota antar provinsi yang menuju ke arah Bandar Lampung tidak bisa bergerak hingga berjam-jam. Antrean panjang kendaraan mencapai 5 kilometer.
Sementara, kendaraan yang menuju ke Bakauheni terlihat padat merayap. Kemacetan parah ini terjadi akibat buruknya kondisi jalan alternatif sepanjang 9 kilometer ini. Kendaraan yang melintas harus antre menghindari kubangan berlumpur.
Truk-truk mudah tergelincir akibat kondisi jalanan penuh lumpur dan kubangan. Kemacetan semakin parah akibat tidak adanya polisi di lokasi yang berinisiatif mengatur lalu lintas. Upaya mengatasi kekacauan lalu lintas serta buruknya kondisi jalan dilakukan spontan oleh masyarakat setempat.
Sejumlah warga berinisiatif menutup kubangan-kubangan yang dalam dengan pasir dan tanah seadanya. "Namun, upaya ini tidak gratis. Mereka meminta imbalan uang receh kepada para pengguna jalan yang lewat. Baru sebentar sudah habis Rp 6.000 saya," keluh Syamsudin Sembiring, seorang sopir bus jurusan Bakauheni Rajabasa.
Yang lebih disesalkan Syamsudin, kemacetan semacam ini hampir selalu terjadi semenjak ditutupnya jalinsum di KM 79/80 Bakauheni.

Source: kompas regional

Minggu, 21 November 2010


Jalur Pantura di Subang Bakal Diblokir Kepala Desa Besok

TEMPO Interaktif, Subang - Para pengguna jalan di jalur Pantai Utara Jawa harus berpikir untuk mencari jalan alternatif untuk besok. Rencananya, ratusan kepala desa yang tergabung dalam Asosiasi Kepala Desa Seluruh Indonesia (Apdes) Kabupaten Subang, bakal memblokir jalan itu.
Aksi pemblokiran yang dipusatkan di jembatan layang Pamanukan itu untuk menuntut DPR segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pedesaan yang sudah dibahas sejak Februari silam. 
“Kami minta supaya DPR dan pemerintah segera mengesahkan RUU Pedesaan tersebut,” kata Sugiantoro, Koordinator Pelaksana Aksi Apdesi Kabupaten Subang, Rabu (10/11). “Kami juga menuntut agar anggaran 10 persen dari APBN dalam bentuk blockgrand masuk dalam RUU Pedesaan itu.”
Aksi juga akan dilakukan oleh para kepala desa dan aparat desa seluruh Indonesia mulai dari Anyer hingga Panarukan secara serempak. Ada juga yang akan menggeruduk gedung DPR RI dan Kementrian Dalam Negeri di Jakarta.
Selama ini, desa baru menikmati dua persen saja dana bantuan dari APBN. Jumlah tersebut dirasakan sangat kurang untuk mendukung semua program pembangunan di pedesaan. “Kami minta dana pembangunan yang adil,” ujar Sugiantoro.
Dalam aksi mendesak pengesahan RUU Pedesaan tersebut, kata Kepala Desa Pamanukan itu, pihaknya juga akan melibatkan para pamong desa serta warga masyarakat yang mendukung aspirasi kepala desa. Kecuali aksi unjuk rasa, Apdesi juga akan melakukan aksi pengumpulan dana untuk membantu para korban bencana gunung Merapi dan Tsunami Mentawai.
Ajun Komisaris Agun Guntoro, Kepala Satuan Lalu-lintas Polres Subang, mengaku belum mengetahui ihwal rencana pemblokiran jalan Pantura di flyover Pamanukan tersebut. Ia mengaku apresiatif terhadap rencana aksi para kepala desa tersebut. “Tapi, aksi tersebut jangan sampai mengganggu ketertiban umum, khususnya menimbulkan kemacetan lalu-lintas di Pantura, itu sangat tidak bijak,” kata Agun.
NANANG SUTISNA

Sabtu, 23 Oktober 2010

Jalur Alternatif Madiun-Ngawi Rusak



MADIUN – Warga di sejumlah desa di Kec Balerejo, Kab Madiun, dan para pemakai jalan mengeluhkan kerusakan jalan sepanjang sekitar 7 km di Desa Kedungrejo, Pacinan, dan Simo, Kec Balerejo. Permukaan jalan banyak yang berlubang bahkan sebagian terdapat kubangan air usai turun hujan, sering mencelakakan pengendara.
 “Bertahun-tahun kondisinya ya seperti itu, sering terjadi kecelakaan. Pengendara terjungkal saat menghindari jalan yang rusak,” ujar Bowo, seorang warga Desa Kedungrejo dihubungi saat memanen padi di tepi jalan raya tersebut, Minggu (17/10).
Jalur ini sebenarnya bukan jalan provinsi, namun arus lalu lintas cukup padat. Banyak sekali mobil bernomor polisi dari luar kota lalu lalang. Jalur tersebut merupakan jalur alternatif Madiun-Ngawi. Sejumlah wilayah di Kab Madiun yang hendak menuju Kota Madiun melintasi jalur ini. Jalur ini juga penghubung jalur utama Surabaya-Madiun ke jalur utama Surabaya-Ngawi lewat Caruban.
Kerusakan jalan tersebut tak hanya dikeluhkan pengendara yang melintas. Para petani dan buruh tani yang sedang memanen hasil pertaniannya merasakan hal sama. Kendaraan pengangkut hasil panen seperti sepeda, sepeda motor, gerobak, mobil pikap maupun truk harus dengan bersusah payah melintasi jalur tersebut.
Cara mengemudikan kendaraan dengan zig-zag belum tentu aman, karena jalan rusak hampir menyeluruh. Tak sedikit tepian jalan bahkan sampai bahu jalan meninggalkan jejak roda mobil atau truk dan menyisakan genangan air, lantaran kendaraan yang lewat berusaha menghindari jalan berlubang.
“Memang ada perbaikan, tapi hanya asal-asalan. Kalau tidak percaya, silakan amati sendiri. Hari ini ditambal, besok atau lusa sudah rusak lagi,” tukas Bowo yang hampir setiap hari melintasi jalan tersebut. swd
SALATIGA SIAPKAN JALUR ALTERNATIF

27 Agustus 2010 | 17:25 wib
Berita Aktual » Nasional
Salatiga Siapkan Jalur Alternatif

Salatiga, CyberNews. Dinas Perhubungan, Komunikasi, Kebudayaan dan Pariwisata (Dishubkombudpar) Kota Salatiga telah menyiapkan jalur alternatif untuk para pemudik. Jalur alternatif akan difungsikan bila arus lalu-lintas mengalami kepadatan atau terjadi kecelakaan untuk mengurai kecelakaan.

Dishubkombudpar juga telah mempersiapkan Terminal Tingkir untuk kedatangan para pemudik dan keberangkatan kembali ke Jakarta.

Hal itu dikemukakan Kepala Dishubkombudpar Drs Cholil As'ad saat melakukan peninjauan persiapan menghadapi arus mudik Lebaran, Jumat (27/8). Cholil meminta pihak pengelola juga memperhatikan kebersihan toilet umum yang ada. Apalagi toilet adalah salah satu fasilitas umum yang dipergunakan banyak orang.

Muzamil mengatakan, saat ini arus penumpang dan bus di Terminal Tingkir masih biasa saja. Diperkirakan terminal akan ramai beberapa menjelang Hari Raya Lebaran dan saat arus balik, karena banyak pemudik yang kembali ke Jakarta dan sekitarnya.

"Di Terminal Tingkir ada sekitar 40 agen bus dengan tujuan ke Jakarta, Jabar dan Sumatera," tandasnya.

Terminal Tingkir juga dipakai untuk posko Lebaran, dengan personil gabungan Dishubkombudpar, Polres Salatiga, TNI, Pramuka, Dinas Kesehatan dan lainnya.

Terkait jalur alternatif yang dipersiapkan, berdasarkan pantauan di lapangan, kondisinya secara keseluruhan cukup bagus. Jalannya relatif mulus dan sudah ada rambu-rambu penunjuk jalan yang dipasang permanen. Namun jumlah rambu-rambu penunjuk masih perlu ditambah, karena dirasakan masih kurang.

Selain itu, di beberapa ruas jalan yang dekat dengan permukiman dipasang "polisi tidur" atau alat pembatas kecepatan (APK) terlalu tinggi. Padahal, untuk membuat dan memasang polisi tidur seharusnya ada izin dan dibuat dengan spesifikasi sesuai ketentuan. Berdasar SK Menteri Perhubungan Nomor 3/1994 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pemakai Jalan, bentuk polisi tidur harus trapesium dengan tinggi maksimal 12 cm. Lalu, lebar bagian bawah minimal 15 cm dengan kemiringan sekitar 15 derajat.

Cholil menandaskan, saat Lebaran nanti arus kendaraan pasti bertambah. Selain adanya arus mudik yang melintas di Salatiga juga karena banyaknya mereka yang akan pergi ke tempat-tempat wisata memanfaatkan libur hari raya. Jafet Patola menambahkan bila jalur alternatif nanti akan dipergunakan untuk kendaraan keluarga saja. Dishubkombudpar juga memastikan bila Jalur Lingkar Selatan (JLS) juga belum bisa dipergunakan pada arus mudik Lebaran tahun ini.

( Basuni Hariwoto /CN12 )
Jalur Alternatif Subang – Cikamurang Masih Diperbaiki
Kamis, 26 Agustus 2010 - 20:01 WIB
| More
INDRAMAYU (Pos Kota) – Jalur alternatif Subang – Cikamurang sapanjang 67 Km hingga saat ini masih dalam perbaikan. Para pekerja proyek jalan itu memastikan pada saat memasuki puncak arus mudik Lebaran atau H-7, jalur itu sudah bisa dilalui kendaraan pemudik.
Berdasarkan pemantauan Pos Kota, Kamis (26/8) sedikitnya terdapat 4 titik atau lokasi perbaikan jalan di sepanjang Jalur Alternatif Subang – Cikamurang yang dibangun menggunakan konstruksi beton cor itu. Ke-4 titik perbaikan jalan itu umumnya sudah memasuki tahap finishing atau penyelesaian akhir.
Sehingga pada saat H-7, ke-4 titik perbaikan jalan di sepanjang Jalur Alternatif itu sudah bisa digunakan oleh kendaraan pemudik. Jalur Alternatif Subang – Cikamurang itu biasanya digunakan oleh kendaraan pemudik pada saat tingkat kepadatan lalu-lintas di Jalur Utama Pantura meningkat sehingga berpotensi macet.
Rute Jalur Alternatif ditempuh pemudik dari pintu keluar tol Cikampek belok ke kanan menuju Sadang (Kabupaten Purwakarta) belok kiri ke Subang selanjutnya menelusuri jalan menuju Cikamurang – Buah Dua (Kabupaten Sumedang) dan tembus ke Jalan Provinsi menghubungkan Cirebon – Bandung.
Mudik menggunakan Jalur Alternatif Subang – Cikamurang memiliki beberapa keuntungan misalnya kondisi lalu-lintas kendaraan tak sepadat Jalur Utama Pantura, jarak tempuh yang lebih singkat hanya 67 Km.
“Kendalanya kondisi jalan disini banyak tikungan tajam. Sebagian melewati kondisi jalan berbukit yang banyak tanjakan dan turunan,” kata Sumedi, 53 warga Desa Cikawung Kecamatan Terisi.
Jumlah SPBU, bengkel dan tambal ban masih sedikit serta belum ada fasilitas PJU (Penerangan Jalan Umum). Pada saat malam ahri kondisi jalan ini gelap. (taryani/dms).-

Jalur Alternatif Porong Dilebarkan

Sidoarjo (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) melebarkan jalur alternatif Porong mulai dari Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin sampai Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Jatim.

"Jalan tersebut merupakan peningkatan ruas jalan dari jalan lingkungan desa menjadi jalur jalan alternatif Porong," papar Wakil Kepala Humas BPLS Akhmad Kusairi, Rabu.

Pelebaran jalur alternatif akan dilakukan sepanjang 3,7 kilometer dengan pelebaran 5 meter dari lebar awal 3 meter.

Menurutnya, pengerjaan pelebaran jalan ini dilakukan untuk memperlancar arus kendaraan yang melewati jalur alternatif ketika jalan arteri Porong yang terancam Lumpur Lapindo, mengalami kemacetan.

"Selain melakukan pelebaran jalan, kami juga melakukan peninggian jalan di lokasi tersebut supaya tidak terendam banjir jika hujan datang," katanya.

Ia mengemukakan, proses peninggian jalan ini ditargetkan bisa selesai sampai akhir tahun ini, sehingga pada tahun depan bisa segera dilakukan pengaspalan.

"Untuk timbunan dan penahan dinding jalan supaya mencapai ketinggian yang sama dengan jalan saat ini ditargetkan akhir tahun bisa diselesaikan," tuturnya.

Ia menyebutkan, timbunan ini sendiri direncanakan setinggi 25 centimeter dan ditambah dengan pengaspalan setinggi kurang lebih 9 centimeter.

"Namun, khusus untuk rencana pengaspalan akan dilakukan pada tahun 2011 mendatang, dan fokus untuk tahun ini adalah proses pengurugan tanah," katanya.(*)

Jalur Alternative Wado

Jalur Alternative Wado

Tuesday, 24 November 2009 03:13
Jalur Wado-Malangbong dipenuhi lintasan berkelok diapit jurang dan tebing dengan panorama perbukitan yang elok, seperti di wilayah Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Minggu (6/9) ini. Jalur ini menjadi jalur alternatif saat jalur utama yang melewati Nagreg macet.
Pilihan ini barangkali bisa dipertimbangkan saat mudik menuju kota-kota di Jawa Tengah bagian selatan. Daripada merayapi dan meratapi kemacetan di jalur Nagreg, Garut, Jawa Barat, mengapa tidak menjajal jalan yang sedikit memutar, tetapi lebih lengang melintasi Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, untuk menjajal jalan alternatif jalur selatan lewat Wado-Malangbong.
Di jalur ini, suguhan budaya, sejarah, kuliner, hingga keindahan alam menemani kita menempuh jalan pulang menuju kampung halaman.
Jalur ini menjadi penyelamat saat jalur Nagreg disesaki kendaraan roda empat dan roda dua. Wado bisa dicapai setelah melintasi kawasan pendidikan Jatinangor, jalur Cadas Pangeran, dan kota Sumedang yang dipenuhi destinasi kebudayaan dan sejarah.
Kota Sumedang, yang terkenal dengan tahu gurihnya ini, bisa dicapai dari Kota Bandung selepas gerbang Tol Cileunyi berjarak 14 kilometer atau dari jalur alternatif Sadang- Subang-Jalancagak.
Selama perjalanan di jalur ini dari arah Bandung, kita akan disuguhi perjalanan penuh pemandangan, mulai dari Cadas Pangeran. Jalan ini adalah bagian dari Jalan Raya Pos (Jalan Daendels) di Sumedang yang dibangun pada tahun 1811 untuk menghubungkan Batavia dan Cirebon.
Perjalanan menuju jalur Wado-Malangbong dimulai di persimpangan bundaran besar Alam Sari di ujung utara kota Sumedang. Dari bundaran tersebut, perjalanan sejauh 40 kilometer menuju Malangbong ditempuh melalui jalan berlapis aspal mulus meski lebarnya tak lebih dari 5 meter-6 meter.
Tak usah terburu-buru menyusuri jalan, nikmati saja pemandangan alam pegunungan dan suasana pedesaan. Selepas kota Wado hingga ke Malangbong, perjalanan akan melintasi jalan berkelok menyusuri punggung bukit. Dijamin tidak akan tahan untuk berhenti sebentar dan mengabadikan panorama alam yang menawan itu.
Hanya saja, waspadalah saat melintas jalur ini pada malam hari karena rambu lalu lintas dan lampu penerang jalan masih sangat minim. Jalan yang berkelok-kelok, gelap gulita, dan ada beberapa tanjakan panjang membutuhkan kewaspadaan tinggi.
Sejarah dan budaya
Banyak hal yang bisa ditemukan di Sumedang sebelum masuk ke jalur alternatif Wado- Malangbong. Selain wisata ziarah makam-makam penguasa Kerajaan Sumedanglarang, terdapat juga Museum Prabu Geusan Ulun, tempat menyimpan pusaka-pusaka para bangsawan di Sumedang. Tempatnya berdekatan dengan Gedung Negara yang menjadi Kantor Bupati sekarang.
Seusai berkeliling ke lokasi sejarah dan budaya di Sumedang, jangan lupa mencicipi makanan khas tahu sumedang. Tidak sulit untuk mencari penjual tahu ini di pusat kota Sumedang.
Saat melintas jalur Wado- Malangbong, jangan khawatir dengan ketersediaan SPBU. Dari Jatinangor saja tercatat ada 9 SPBU yang tersebar di setiap kecamatan hingga mencapai Malangbong. Hotel berbintang bisa ditemukan di Kawasan Jatinangor, sementara hotel melati tersedia hingga di pusat kota Sumedang.
Rumah makan juga banyak ditemukan di wilayah Jatinangor dan kota Sumedang. Begitu memasuki jalur Wado, hanya ada dua rumah makan yang cukup besar. Setelah Wado, rumah makan baru bisa dijumpai lagi di kawasan Malangbong.
Berbicara mengenai oleh- oleh, selain tahu sumedang, bisa dicoba ubi cilembu yang banyak terdapat di Kecamatan Pamulihan selepas Tanjungsari di Jalan Raya Bandung-Sumedang. Ubi cilembu dikenal karena memiliki rasa manis alami setelah dipanggang dalam oven.
Sumber: http://travel.kompas.com/read/xml/2009/09/19/08025265/sumedang.suguhan.budaya.sejarah.dan.kuliner.khas